REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Prapancha Research (PR) dalam
pantauan terbarunya mendapati citra perempuan dalam dunia politik kita
cenderung buruk. Kenapa?
Selain belum adanya perempuan yang benar-benar membekas dalam ingatan
publik sebagai tokoh politik berprestasi, beberapa skandal seksual
politisi (laki-laki) yang marak diberitakan belakangan ini memperburuk
citra perempuan dalam politik.
"Saat sejumlah nama politisi perempuan paling menonjol digabungkan
sekalipun, jumlahnya tetap tak sepadan dengan satu tokoh politik pria
yang menonjol," kata analis PR, Cindy Herlin Marta.
Ia mencontohkan angka perbincangan total Megawati, Rieke Dyah
Pitaloka, Puan Maharani, Yenny Wahid dan Nurul Arifin hanya 532 ribu
percakapan. Sementara angka perbincangan Dahlan Iskan sendiri saja
mencapai 592 ribu.
Cindy menunjukkan perempuan menempati pemberitaan utama atau
perbincangan ramai seputar politik manakala ia menjadi objek skandal.
Kemudian ketika dilakukan pemantauan satu per satu nama-nama politisi
perempuan dalam perbincangan di Twitter enam bulan terakhir (27
Januari-27 Juli 2013), tak ada satu nama pun yang membangkitkan citra
kuat tersendiri.
"Selain angka perbincangan perihal nama-nama kebanyakan politisi
perempuan ini rendah, mereka kebanyakan hanya disinggung di akun-akun
Twitter media sebagai pejabat formal yang sedang mengurusi kebijakan
ini-itu, atau sedang tersandung kasus dugaan korupsi," ujar Cindy.
Berbeda halnya dengan politisi pria. Sebagai contoh, Jokowi, Jusuf
Kalla, atau Mahfud M. D., memiliki citra kuat yang sangat mudah
terpantau dalam perbincangan-perbincangan di Twitter.
Tokoh-tokoh ini cenderung diingat publik sebagai sosok yang mempunyai
karakter, berpeluang membawa perubahan, dan tak jarang terpantau
diidam-idamkan menjadi pemimpin Indonesia.
| Reporter : Mohammad Akbar |
| Redaktur : Citra Listya Rini |
