REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nama Prabowo Subianto dan Joko Widodo
alias Jokowi secara perorangan selalu menempati urutan teratas pada
hampir semua jajak pendapat yang dilakukan lembaga survei.
Saat dilakukan survei dengan variabel pasangan capres dan cawapres,
pasangan Prabowo Subianto dan Joko Widodo mendapatkan elektabilitas
tertinggi.
Hasil tersebut diperoleh Pusat Data Bersatu (PDB) yang melakukan
jajak pendapat dari 11 Juni sampai 18 Juni 2013 terhadap 1.200
responden. Elektabilitas pasangan Prabowo-Jokowi mencapai 20.72 persen.
Diikuti pasangan Jokowi-Jusuf Kalla sebesar 17.13 persen.
"Tetapi ketika Prabowo dipasangkan dengan tokoh lainnya tidak sebesar
saat dipasangkan dengan Jokowi. Sedangkan Jokowi dipasangkan dengan
siapa saja cenderung tinggi," kata Direktur PDB Didik J Rachbini saat
memaparkan hasil survei di Hotel Sahid, Jakarta, Rabu (17/7).
Namun, lanjut Didik, perbedaan elektabilitas saat JOkowi dipasangkan
dengan Prabowo atau Jokowi dipasnagkan dengan tokoh lain memang cukup
tinggi. Termasuk saat Jokowo dipasangkan dengan Megawati Soekarnoputri.
Pasangan Megawati-Jokowi hanya mendapatkan elektabilitas sebesar 12.34
persen.
"Kalau Megawati tidak rela dan tetap mengambil Jokowi sebagai
cawapres bisa kalah. Peluang terbesar memang saat dipasangkan dengan
Prabowo," kata Didik.
Bila dilihat afiliasi tokoh capres dengan partai politik, menurut
Didik, Jokowi hanya dipilih oleh 5.6 persen warga PDI-P. Sedangkan
sisanya, ia dipilih oleh kader non-PDIP dan swing voters.
Artinya, jika Jokowi diusung oleh partai lain, kemungkinan ia
memenangkan pemilu presiden masih sangat tinggi. Brbeda dengan
Megawati
yang setengah dari persentase keterpilihannya ditentukan oleh warga
PDI-P.
Survei dilakukan dengan menggunakan kuosioner terstruktur dan
wawancara tatap muka terhadap 1.200 responden di 30 provinsi. Responden
berusi minimum 17 tahun. Penelitian memiliki margin of error 2.8 persen. Dengan penarikan sampel bertingkat mencakup 10 responden di setiap kecamatan.
