Headlines News :
Home » » Istana Menangguk Untung Polemik FPI

Istana Menangguk Untung Polemik FPI

Written By Unknown on Jumat, 26 Juli 2013 | 09.14

INILAH.COM, Jakarta - Dalam polemik Front Pembela Islam (FPI), Istana mendapat insentif politik dari publik. Respons bernada positif mengarah kepada Presiden SBY. Sebaliknya, respons negatif menimpa FPI. Dialektika penuh kebencian tak bisa dihindari.

Tak dipungkiri hiruk-pikuk soal FPI yang menampilkan aktor SBY dan para stafnya di kabinet serta Ketua FPI Rizieq Shihab secara politis memberi warna baru bagi Istana. Bila sebelumnya, Istana diidentikkan sebagai institusi yang tidak peduli dengan praktik diskriminasi dan kekerasan, polemik FPI itu telah memutar balik persepsi itu. Sikap lugas SBY menjadi insentif positif bagi Istana.

Hanya saja, dalam dialektika yang terjadi antara Istana dan FPI terdapat upaya saling menjatuhkan satu dengan lain. Istana melalui Menteri Sekretaris Kabinet Dipo Alam secara nyata menuding tudingan yang tidak tepat. Penyebutan FPI tidak terdaftar sebagai organisasi kemasyarakatan (ormas) jelas tidak tepat.

Dipo mengutip nama Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi yang menyebutkan FPI tidak terdaftar di Kementrain Dalam Negeri sebagai ormas. "Menurut Mendagri, FPI belum terdaftar sebagai ormas, apa yang dibubarkan," ujar Dipo menjawab pertanyaan soal upaya pembubaran FPI.

Namun tak butuh waktu lama, Mendagri Gamawan Fauzi justru menyebutkan FPI telah terdaftar di Kemendagri sebagai Ormas. "Oh sudah terdaftar, terdaftar, sudah ormas. Kalau di sini sudah terdaftar," kata Gamawan di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (25/7/2013).

Memang aneh jika menyandingkan pernyataan Dipo Alam dengan Gamawan Fauzi. Dalam satu kesatuan pemerintahan terjadi informasi yang tidak akurat satu sama lain. Persitiwa yang semestinya tidak boleh terjadi.

Di sisi lain, sikap FPI yang konfrontatif secara blak-blakan dengan pihak Istana akhirnya menambah sinisme publik ke FPI. Rizieq Shihab yang menyebut SBY pecundang disesalkan oleh banyak pihak.

"Saya terhina, sebagai warga, itu tidak boleh dilakukan kepada seorang kepala negaara. Tidak boleh dikeluarkan kata-kata kotor itu," ujar budayawan Ridwan Saidi dalam Dialektika Demokrasi "Ada Apa SBY Vs FPI?" di gedung DPR, Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, Kamis (25/7/2013).

Sementara politikus Partai Demokrat Ruhut Poltak Sitompul mengatakan untungnya SBY tidak terpancing pernyataan Rizieq Shihab. Ruhut menyebut, sebaiknya FPI berhat-hati karena yang dihadapi merupakan publik. "Mereka harus hati-hati, yang mereka hadapi rakyat," cetus Ruhut. [mdr]
Share this post :
 
About Us | Advertise With Us | Privacy Policy | Contact Us
Copyright © 2011. Ayo Memilih Lagi ! - All Rights Reserved
Developed by BQ SISCAWATI Published by Ayo Group
Proudly powered by CV. ANEKA JASA MANDIRI