INILAH.COM, Jakarta - Dalam polemik Front Pembela Islam
(FPI), Istana mendapat insentif politik dari publik. Respons bernada
positif mengarah kepada Presiden SBY. Sebaliknya, respons negatif
menimpa FPI. Dialektika penuh kebencian tak bisa dihindari.
Tak
dipungkiri hiruk-pikuk soal FPI yang menampilkan aktor SBY dan para
stafnya di kabinet serta Ketua FPI Rizieq Shihab secara politis memberi
warna baru bagi Istana. Bila sebelumnya, Istana diidentikkan sebagai
institusi yang tidak peduli dengan praktik diskriminasi dan kekerasan,
polemik FPI itu telah memutar balik persepsi itu. Sikap lugas SBY
menjadi insentif positif bagi Istana.
Hanya saja, dalam dialektika
yang terjadi antara Istana dan FPI terdapat upaya saling menjatuhkan
satu dengan lain. Istana melalui Menteri Sekretaris Kabinet Dipo Alam
secara nyata menuding tudingan yang tidak tepat. Penyebutan FPI tidak
terdaftar sebagai organisasi kemasyarakatan (ormas) jelas tidak tepat.
Dipo
mengutip nama Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi yang menyebutkan FPI
tidak terdaftar di Kementrain Dalam Negeri sebagai ormas. "Menurut
Mendagri, FPI belum terdaftar sebagai ormas, apa yang dibubarkan," ujar
Dipo menjawab pertanyaan soal upaya pembubaran FPI.
Namun tak
butuh waktu lama, Mendagri Gamawan Fauzi justru menyebutkan FPI telah
terdaftar di Kemendagri sebagai Ormas. "Oh sudah terdaftar, terdaftar,
sudah ormas. Kalau di sini sudah terdaftar," kata Gamawan di Kantor
Presiden, Jakarta, Kamis (25/7/2013).
Memang aneh jika
menyandingkan pernyataan Dipo Alam dengan Gamawan Fauzi. Dalam satu
kesatuan pemerintahan terjadi informasi yang tidak akurat satu sama
lain. Persitiwa yang semestinya tidak boleh terjadi.
Di sisi lain,
sikap FPI yang konfrontatif secara blak-blakan dengan pihak Istana
akhirnya menambah sinisme publik ke FPI. Rizieq Shihab yang menyebut SBY
pecundang disesalkan oleh banyak pihak.
"Saya terhina, sebagai
warga, itu tidak boleh dilakukan kepada seorang kepala negaara. Tidak
boleh dikeluarkan kata-kata kotor itu," ujar budayawan Ridwan Saidi
dalam Dialektika Demokrasi "Ada Apa SBY Vs FPI?" di gedung DPR, Kompleks
Parlemen Senayan Jakarta, Kamis (25/7/2013).
Sementara politikus
Partai Demokrat Ruhut Poltak Sitompul mengatakan untungnya SBY tidak
terpancing pernyataan Rizieq Shihab. Ruhut menyebut, sebaiknya FPI
berhat-hati karena yang dihadapi merupakan publik. "Mereka harus
hati-hati, yang mereka hadapi rakyat," cetus Ruhut. [mdr]
