REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ternyata Presiden Abdurrahman Wahid
(Gus Dur) lebih dirindukan kepemimpinannya dibandingkan mantan yang lain
setelah masa Sukarno. Hal itu terungkap dari pantauan terbaru Prapancha
Research (PR) terhadap sosial media.
"Gus Dur yang banyak diperbincangkan oleh orang-orang terkait
kebijakan dan gagasannya yang tak biasa, justru menuai sentimen positif,
yang tidak ditemukan terhadap mantan figur-figur presiden lainnya
pasca-Presiden Sukarno," ujar analis PR Adi Ahdiat di Jakarta, Sabtu
(20/7).
Berdasarkan pemantauan PR di sosial media dua tahun kebelakang, Gus
Dur dikicaukan ulang di atas 50 kali. Sebanyak 38 persen di antaranya
berujar tentang pemikiran atau kutipan pernyataannya yang mempromosikan
toleransi. Lalu 24 persen kekaguman pribadi terhadap sang tokoh. Lalu,
sekitar 16 persen pemikiran atau kebijakannya mengelola negara, lima
persen tentang guyonan atau kesehariannya dan yang menariknya, 16 persen
sisanya lain-lain.
Temuan ini membongkar dugaan awam yang menganggap sejumlah besar
masyarakat saat ini tengah merindukan kepemimpinan gaya Orde Baru yakni
kepemimpinan mantan presiden Soeharto. "Gus Dur yang sempat memimpin
Indonesia selama 21 bulan, terasa jauh lebih dirindukan dibanding
Soeharto yang pernah berkuasa selama 32 tahun melalui pantauan sosial
media," tegas Adi.
| Reporter : Rusdy Nurdiansyah |
| Redaktur : Mansyur Faqih |
FOTO TERKAIT:
VIDEO TERKAIT:
Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id.
Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar,
berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras,
dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.
Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.




