iBerita.com – Pemilu Malaysia
telah digelar pada hari Minggu (5/5/2013) kemarin dan dimenangi oleh
koalisi incumbent yakni Barisan Nasional. Kendati demikian, secara
perolehan, koalisi yang telah 57 tahun berkuasa itu berkurang dan
menguntungkan oposisi Pakatan Rakyat yang dipimpin oleh Anwar Ibrahim.
Barisan Nasional yang dipimpin oleh Perdana Menteri Malaysia saat ini,
Najib Razak harus bersiap untuk menghadapi tantangan ke depan mengingat
tekanan dari oposisi akan semakin menguat.
Baru awal kemenangan itu diraih, kubu
oposisi tidak terima dengan hasil pemilu tersebut. Pakatan Rakyat yang
dipimpin oleh Anwar Ibrahim akhirnya menggelar demo untuk memprotes
hasil pemilu yang dinilai penuh dengan kecurangan tersebut. Hal tersebut
juga dilaporkan oleh lembaga pemantau independen yang menyatakan bahwa
pemilu yang berjalan di negeri Jiran itu tidak sepenuhnya berjalan adil.
Menurut laporan dari Institute for
Democracy and Economic Affairs (IDEAS) dan Centre for Public Policy
Studies (CPPS), terdapat sejumlah masalah serius dalam pelaksanaan
pemilu tersebut. Kedua lembaga ini menilai adanya cacat sistem dalam
pemilu dan independensi para pemilih. Ada indikasi permainan kekuasaan
yang mengarahkan pada pemenangan partai koalisi yang sedang berkuasa,
mulai dari permasalahan tinta pemilu hingga media yang cenderung memihak
pemerintah yang berkuasa. Kesimpulan dari kedua lembaga pemantau
independen tersebut adalah hanya sebagian wilayah saja pemilu di
Malaysia yang berjalan jujur dan adil.
Anwar Ibrahim, yang menjadi ketua oposisi
Pakatan Rakyat dengan tegas menyebutkan berbagai kecurangan yang
dilakukan oleh incumbent. Tidak adanya transparansi penggunaan dana
kampanye semakin membuat para oposisi marah atas hasil pemilu yang
dinilai penuh kecurangan tersebut. Kendati demikian, ini adalah sejarah
pemilu Malaysia di mana Anwar Ibrahim dan pihak oposisi kembali bangkit
untuk melawan partai yang berkuasa.
