INILAHCOM,
Jakarta - Pernyataan sejumlah elite Partai Demokrasi Indonesia
Perjuangan (PDIP) yang mengecilkan makna kehadiran Gubernur DKI Jakarta
Joko Widodo atau Jokowi di pentas politik nasional, patut dikritisi.
Benarkah kehadiran Jokowi sama sekali tak berpengaruh pada elektabilitas
partai pimpinan Megawati Soekarnoputri? Benarkah PDIP akan keluar
sebagai pemenang pemilu legislatif April mendatang tanpa Jokowi?Beberapa
pernyataan yang mengecilkan Jokowi antara lain pernah dilontarkan
'lingkaran dalam' PDIP yaitu Puan Maharani dan Tjahjo Kumolo. Mereka
bilang tanpa Jokowi pun, PDIP tetap akan memenangkan pemilu legislatif.
Pernyataan tersebut patut kita ingat dan cermati hingga hasil real count
diumumkan resmi oleh Komisi Pemilihan Umum.
Tak dipungkiri, PDIP
memang pernah memenangkan pemilu tanpa Jokowi, yakni pada Pemilu 1999.
Tetapi, harus diingat pula bahwa kemenangan ini ditentukan dua faktor
utama, yaitu:
Pertama, faktor Megawati Soekarnoputri yang tampil
sebagai tokoh baru sebagai antitesa dari semua tokoh Orde Baru yang
sedang menjadi sasaran kemarahan publik karena dianggap satu paket
dengan Rezim Soeharto.
Gerakan reformasi 1998 telah berhasil
membangun stigma bahwa apa pun yang berbau Soeharto harus dilawan karena
merusak bangsa. Ini semangat yang dikibarkan Amien Rais sejak dia
pulang dari Amerika Serikat awal 1980-an sebagai doktor ilmu politik.
Mungkin Amien Rais sendiri kurang menyadari bahwa semangat anti Soeharto
dan Orde Baru yang dia gelorakan sejak awal 1980-an itu, antara lain
akan ikut memuluskan jalan bagi Megawati tokoh muda keturunan Bung Karno
sebagai representasi Rezim Orde Lama yang dizalimi, untuk meraih
kekuasaan.
Megawati adalah anak biologis Bung Karno yang
konsisten memperjuangkan semangat kebangsaan bapaknya. Maka, ketika Orde
Baru dan Golkar berhasil dihancurkan, Megawati dan PDIP-lah yang
menikmati buahnya. Kedua, Golkar sebagai mesin politik Orde Baru berada
di titik nadir kepercayaan masyarakat.
Golkar dianggap sebagai
sumber bencana yang ikut andil besar dalam membangun rezim Orde Baru
menjadi rezim otoriter. Kekuatan lain di luar Golkar yang ikut andil
besar adalah militer. Beruntung pada waktu itu Golkar dipimpin oleh
Akbar Tandjung, politikus seribu karakter dan memiliki kemampuan
komunikasi yang sangat luar biasa. Kalau tidak, Golkar akan bernasib
sama dengan PKI ketika Rezim Orde Lama tumbang. Dibubarkan!
Pada
saat yang bersamaan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) nyaris tidak bisa
memainkan peranan berarti dalam memetik buah reformasi. Sama halnya
dengan PDI pimpinan Soerjadi yang dianggap sebagai partai bentukan Rezim
Orde Baru. Lagi-lagi semua yang berbau Orde Baru telah dijauhi rakyat.
Ditambah lagi sejumlah tokoh Islam ramai-ramai mendirikan partai
sendiri-sendiri, sehingga suara umat mayoritas tercerai berai,
berserakan ada di banyak partai yang mengklaim berazas Islam. Maka, PDIP
Megawati yang satu-satunya sebagai partai yang lahir sebagai simbol
anti Orde Baru tidak menemukan lawan tanding yang sepadan dalam Pemilu
1999.
Dengan kemenangan Pemilu 1999, sesungguhnya bangsa ini
telah memberikan panggung politik kepada Megawati dan PDIP. Namun
panggung tersebut tidak digunakan untuk konser akbar mewujudkan harapan
rakyat melihat Indonesia yang jauh lebih baik dari era Orde Baru.
Selama
berada di atas panggung kekuasaan, Megawati dan PDIP justru melakukan
kesalahan yang hampir seru dengan Rezim Orde Baru. Beberapa tokohnya
terlibat praktik korupsi dan menjual aset bangsa kepada pihak asing;
antara lain menjual saham Indosat ke Singapura, kontrak penjualan gas
dalam jangka panjang kepada China dengan harga yang disebut-sebut sangat
murah.
Dampak dari kebijakan Pemerintahan Megawati ini masih
terasa sampai sekarang, dimana bangsa Indonesia sebagai salah satu
produsen gas terbesar di dunia tetapi mengalami kesulitan dalam memenuhi
kebutuhan gas rakyatnya sendiri. Bahkan Perusahaan Listrik Negara (PLN)
harus impor gas untuk menyalakan sejumlah pembangkit listrik agar
kebutuhan listrik rakyat dan industri terpenuhi.
PDIP sendiri
ikut merasakan dampak dari kesalahan kebijakan Pemerintahan Megawati
tersebut. Partai pembela wong cilik ini gagal menjadikan Megawati
sebagai presiden pada Pemilu 2009. Begitu juga PDIP dikalahkan dalam
meraih kursi parlemen oleh Partai Demokrat yang merupakan partai
pendatang baru.
Pertanyaannya, apakah benar PDIP akan memenangkan
pemilu legislatif pada April hanya mengandalkan magnet lama Megawati?
Untuk bisa memenangkan pemilu, partai apapun perlu memiliki magnet baru
yang menjadi daya tarik luar biasa bagi rakyat pemilik suara. Ingat,
sekarang ini tingkat kepercayaan rakyat terhadap partai tinggal 52%.
Rakyat yang sudah sangat cerdas melihat bahwa perilaku partai dan
elitenya sama saja, meminjam istilah seorang teman, partai politik hanya
gerombolan orang–orang yang cari untung ogah rugi, ujung-ujungnya hanya
meributkan uang negara dan memperebutkan proyek. UUD: ujung ujungnya
duit.
Jokowi adalah magnet baru yang merupakan lawan dari
wajah-wajah yang sudah 10 tahun ini beredar di panggung politik
nasional. Jokowi mewakili harapan rakyat yang sudah muak melihat
keculasan yang bersembunyi di balik kecerdasan kata-kata. Rakyat jijik
melihat para pemimpin yang pura-pura suci bagaikan nabi, padahal mereka
sangat keji dan bermental pencuri.
Memang, Jokowi bukan nabi dan juga
bukan malaikat. Tetapi, dalam cara pandang politik sebagian orang Jawa,
Jokowi adalah sosok yang kewahyon. Sosok yang mendapat 'wahyu
kekuasaan' karena kesederhanaan dan kesalihan sosialnya. Bagian ini
mungkin agak klenik. Karena itu, tidak perlu dipercaya kebenarannya.
Karena
itu, sosok seperti Jokowi tidak bergantung pada partai. Semakin tidak
berpartai, semakin banyak partai yang ingin mengusungnya sebagai calon
Presiden RI. Sosok Jokowi yang sudah bertransformasi dari quadran
'abangan' ke quadran santri nasionalis akan menjadi figur yang diterima
oleh umat beragama, nasionalis, dan aliran kepercayaan yang hidup di
negeri ini.
Jangankan sudah menyatakan tidak berpartai, begitu
dikecilkan dan dianggap tak penting oleh PDIP sebagai partai yang belum
lama merekrutnya, Jokowi sudah kebanjiran pinangan.
Sampai saat ini
memang belum ada yang berhasil merumuskan secara akurat Jokowi Effect
terhadap elektabilitas partai atau terhadap pasangan capres-cawapres.
Tapi sebentar lagi akan kita lihat seberapa besar dampak dari sosok
mantan Wali Kota Solo ini sebagai magnet baru di pentas politik
nasional…..!